Peluang Usaha    Hobby    Budaya    Kerajinan    Wisata    Oto    Tekno    Olah Raga    Kuliner    Seleb    Pendidikan    Kesehatan    Seks    Modis    Amatir   
Diberdayakan oleh Blogger.

Kisah uang Rp 1000 dan Rp 100.000

Uang Rp 1000 & Rp 100.000 sama-sama terbuat dr kertas. Sama-sama dicetak & diedarkan oleh & dari Bank Indonesia..
Pada saat bersamaan, mereka keluar & berpisah dr Bank. Lalu beredar dimasyarakat.

Empat bulan kemudian mereka bertemu lagi secara tdk sengaja di dlm dompet seorang Pemuda.
Kemudian diantara kedua uang tersebut terjadilah percakapan..

Uang Rp 100.000 bertanya kepada Uang Rp 1000;

"Kenapa badan kamu begitu lusuh, kotor & bau amis..?"

dijawablah olehnya:
" Krn aku begitu keluar dari Bank, langsung ditangan orang-orang Bawahan, dari Sopir Angkutan Umum, Pedagang Pasar, Buruh Kasar, dan tak jarang ditangan Pengemis"

Lalu Rp.1000 bertanya balik pada Rp100.000; "Kenapa kamu kelihatan begitu baru, rapi dan masih bersih?"

dijawabnya;
"Karena begitu aku keluar dari Bank, langsung disambut perempuan Cantik. Dan beredarnya pun di restauran Mahal, di Mall dan juga Hotel-hotel berbintang. Serta keberadaanku selalu di jaga & jarang keluar dari dompet"

Lalu Rp 1000 bertanya lagi;
"Pernahkah engkau mampir di tempat ibadah?

Dijawablah...
"Belum pernah".

Rp 1000 pun berkata lagi;
"Ketahuilah, Walaupun keadaanku seperti ini adanya. Pada setiap Jum'at dan Minggu, aku selalu mampir di Mesjid2, Gereja, Pura,Vihara & ditangan anak-anak Yatim.

Bahkan aku selalu bersyukur kepada Tuhan. Krn Manusia memandangku bukan karena "Nilai"ku, tapi Mereka lebih memandangku sebagai sebuah "Manfaat".

Akhirnya menangislah uang Rp 100.000 krn selama ini, Ia selalu merasa Besar, Hebat, Tinggi.. Namun,manfaatnya kurang..

Sobat, Dari Cerita Ini Bisa kita petik Hikmah.. Sebuah "Nilai" memang Penting.. Tapi, akan Lebih Penting lagi Bila bisa menjadi suatu "Manfaat"...

Bkn seberapa "Besar" Penghasilan Kita. Tp seberapa "Bermanfaat" Penghasilan Kita itu. Krn Kekayaan Bukanlah unt Kesombongan.

Semoga kita termasuk golongan org2 yg selalu mensyukuri Nikmat dan memberi Manfaat untuk semesta alam serta dijauhkan dari sifat sombong.
 

Kisa 4 Lilin

Ada empat hal yang penting yang kadang kita kurang bisa menjaganya…dan apabila kita tidak bisa menjaganya maka dia akan lenyap satu demi satu.Empat hal yang penting itu adalah 4 LILIN.Lho kok lilin ??

Ada 4 lilin yang Menyala Di Dalam Sebuah Kamar,
Sedikit Demi Sedikit Lilin tersebut Habis Meleleh dan
Suasana Terasa Begitu Sunyi sehingga Terdengarlah Percakapan Mereka.

Aku adalah “DAMAI“.
Namun Manusia TAK MAMPU MENJAGAKU :
maka Lebih Baik aku MEMATIKAN DIRIKU SAJA !”
Demikianlah Sedikit demi sedikit sang Lilin Damai Padam.

Aku adalah “IMAN“.
Sayang aku TAK BERGUNA Lagi.
Manusia TAK MAU MENGENALKU,
untuk itulah Tak Ada Gunanya aku Tetap Menyala.”
Begitu selesai Bicara, Tiupan Angin Memadamkan Lilin Iman tersebut.

Dengan Sedih giliran Ketiga Berbicara :
Aku adalah “CINTA“.
TAK MAMPU Lagi aku Untuk TETAP MENYALA.
Manusia TIDAK LAGI MEMANDANG dan MENGANGGAPKU BERGUNA.
Mereka SALING MEMBENCI, MEMFITNAH, MENGHINA
bahkan Membenci Mereka yang Mencintainya, Membenci Keluarganya.”
Tanpa Menunggu Waktu Lama, maka Matilah Lilin Cinta tersebut.



Tanpa terduga….

ANAK Pemilik Rumah itu Masuk ke dalam Kamar untuk mengambil
‘BENDA-benda’ Milik-Nya di sana, dan Melihat Ketiga Lilin Telah Padam.
Karena dia Tidak Bisa Melihat Jelas Dalam Gelap, ia berkata :
”Eh..Apa yang Terjadi ?
Kalian Harus Tetap Menyala, Aku Tidak Mau RUMAH-ku Gelap !”

Dengan Mata Bersinar, sang Anak mengambil Lilin HARAPAN,
lalu Menyalakan Kembali Ketiga Lilin lainnya.

APA YANG TIDAK PERNAH MATI HANYALAH “HARAPAN”.
HARAPAN yang ADA DALAM HATI KITA.
Dan Masing-masing dari kita Dapat Menjadi ALAT Seperti Anak tersebut,
yang Dalam SITUASI APAPUN MAMPU MENGHIDUPKAN KEMBALI
IMAN, DAMAI, CINTA DENGAN HARAPAN - NYA.

(Kamila Vyndarti)

Maka dari itu Sahabat hikmah….janganlah kita kehilangan HARAPAN, karena apabila kita sudah kehilangan Harapan akan layulah kehidupannya, dia akan putus asa ditelan masa..

Milikilah HARAPAN, Anda akan mendapatkan kembali DAMAI, IMAN dan CINTA….

Perlunya Memiliki Peta Kecerdasan Emosi

Kecerdasan emosi itu bukan semata kemampuan seseorang mengendalikan emosi pada tempat dan waktu tertentu. Dalam Kecerdasan Emosi seseorang dibekali semacam peta baku yang menjadi "rujukan" untuk respons terhadap spekuli, atau respons terhadap hubungan.

Seorang anak yang sudah memiliki Peta Kecerdasan Emosi tidak akan berespons negatif ketika dihina sebab dalam dirinya sudah ada peta bahwa hanya orang yang rendah saja yang marah ketika direndahkan orang lain.

Seseorang yang sudah memiliki Peta Kecerdasan Emosi tidak akan berespons negatif ketika dikatakan bodoh oleh pihak lainnya sebab dalam Peta Emosi yang dimilikinya ada petunjuk bahwa hanya orang bodoh saja yang mengatakan orang lain bodoh.

Kalau secara kolektif bangsa ini di isi oleh individu-individu yang bereaksi positif terhadap apapun yang terjadi dilingkungan kita, yakinlah kehidupan bernegara dan berbangsa ini akan lebih damai dan syahdu.


(Mario Teguh)


Ditulis oleh Watari Brewok
Cibinong, Bogor, 17 Maret 2009  Jam 15:32:00

Seni Memperlakukan Meja Kerja

Anda tak ingin dinilai rekan kerja atau bos di kantor sebagai karyawan pemalas atau sok sibuk?
Cobalah mengubah penampilan meja kerja agar memberi kesan lebih profesional pada Anda.


1. Jangan biarkan kosong

Biasanya untuk menunjukkan bahwa dirinya sedang sibuk bekerja, seseorang akan menaruh berbagai perlengkapan kerja di mejanya. Ini poin yang bagus. Karena jika di jam kerja meja terlihat kosong, apalagi Anda sedang tidak berada di tempat, orang akan menyangka Anda sedang tidak sibuk bekerja.
Sedang sibuk bekerja atau tidak, sebaiknya tetap ciptakan kesan sedang bekerja. Misalnya, dengan menaruh buku catatan, alat tulis, dan beberapa kertas. Orang menilai kesungguhan Anda dalam bekerja terutama dari apa yang terlihat di atas meja.

2. Jaga kerapian dan kebersihan

Meski sibuk dan banyak peralatan kerja di atas meja, Anda tetap harus menjaga kerapian dan kebersihannya. Jika meja rapi dan bersih, orang akan menganggap Anda sebagai karyawan yang menghargai pekerjaannya. Menjelang pulang pun, kerapian meja kerja tetap perlu dijaga. Ingat, meja mencerminkan kepribadian pemiliknya. Jika meja rapi dan bersih, berarti Anda adalah pribadi yang rapi dan efisien.

3. Gunakan laci meja

Salah satu cara untuk mengelola kertas dan dokumen adalah dengan menyimpannya dalam laci. Di sini, Anda bisa menyimpan semua hal yang berkaitan dengan pekerjaan atau benda yang sifatnya pribadi, seperti makanan ringan, dompet, ponsel, dan lainnya. Bagilah beberapa peralatan dalam masing-masing laci. Misalnya, laci atas untuk alat tulis dan peralatan kantor, laci tengah untuk catatan dan dokumen penting, dan laci bawah untuk barang-barang pribadi. Bereskan isi laci setelah beberapa waktu. Ini menunjukkan Anda bukan hanya menjaga kebersihan dan kerapian bagian luar meja, tetapi juga bagian dalamnya.

4. Tinggalkan meja sesekali

Seharusnya karyawan tidak meninggalkan meja kecuali untuk keperluan penting, atau makan siang, ke toilet, rapat, dan pulang. Saat jam kerja, banyak yang merasa lebih aman jika tidak meninggalkan mejanya. Namun sekalipun Anda karyawan yang rajin dan disiplin, jangan terus berada di meja. Tinggalkan sesekali untuk melihat keadaan sekeliling. Jangan sampai Anda bosan karena terus menerus berada di meja.

5. Jangan merebahkan kepala

Meski mata sudah mengantuk dan sulit untuk berkonsentrasi, usahakan untuk tidak menelungkupkan kepala di atas meja. Sikap ini akan mengesankan Anda pemalas. Jika mengantuk, sebaiknya basuhlah wajah di toilet. Dengan berjalan dan menggerakkan badan akan membantu untuk membuat aliran darah berjalan. Istirahatkan mata sejenak dengan menatap keluar kantor lewat jendela.

6. Bersiaplah untuk pindah

Perpindahan karyawan dari satu meja ke meja lain atau bahkan perpindahan divisi terkadang tak bisa dihindari. Karena itu, Anda harus selalu siap untuk membenahi barang Anda. Itulah gunanya Anda selalu membenahi peralatan dan barang-barang Anda, supaya ketika sewaktu-waktu harus pindah, Anda sudah siap. Jangan tinggalkan kesan buruk pada meja lama, misalnya dengan meninggalkan coret-coretan ataupun stiker.

Ditulis oleh Tati Rani
Karawang, Jawa Barat, 28 Maret 2009  Jam 2:09:20

Manusia adalah Software, bukan Hardware

Dulu ada yang beranggapan bahwa manusia adalah tubuh yang berjiwa, tapi anggapan itu sekarang telah beralih dengan adanya pengembangan disiplin ilmu Psychology yang kini sudah berjalan melangkah keluar, memasuki area metafisik Parapsychology. Ilmuwan di negara barat sependapat bahwa manusia adalah jiwa yang bertubuh, jangan heran kalau mereka pun mampu melakukan experience outside body (EOB) atau yang disini dikenal dengan istilah ragasukma. 

Jika sebuah mobil melintas di hadapan kita, maka pandanglah sang supir itulah manusia nya yang mengendalikan alam semesta dirinya baik fisik maupun metafisik. Terkadang terjadi sang supir lengah, lalu mendekatlah seorang preman supir dipukul pingsan, preman masuk kedalam mobil dan mengendalikannya, akhirnya jalan mobil ga karuan. Begitulah serupa dengan kasus kesurupan yang kadang terjadi, disaat sang supir sebagai pemimpin unsur bumi (kholifah fil aradh) lengah, maka kendali dipegang oleh lainnya

Kembali, bahwa manusia adalah JIWA yang bertubuh. Tubuhnya tidak lain hanyalah unsur mineral semata yang tidak beda dengan unsur bumi, yang bisa rusak termakan hukum alam atau law of the universe (sunnatullah). Tidak ada yang bisa dibanggakan dari tubuh manusia, baik dari kekuatan, keindahan dan lainnya. Tubuh Gajah jauh lebih besar daripada tubuh manusia, kekuatan tubuh gajah jauh melebihi kekuatan tubuh manusia, mata seekor burung elang jauh lebih tajam daripada mata manusia.


Lalu kenapa manusia dikatakan sebagai pemimpin di alam semesta ini, baik alam semesta micro yang merupakan dirinya sendiri maupun alam semesta makro. Allah ber firman bahwa dijadikan nya manusia adalah sebagai Master of The Universe, pemimpin .. tapi kenapa tubuhnya kalah kuat dengan gajah, matanya kalah tajam dengan elang? Benar, kalau kita bicara tubuh manusia sangatlah rentan. Tubuh manusia bukanlah yang diisyaratkan sebagai khalifah, tetapi jiwa tersebutlah yang di isyaratkan sebagai pemimpin karena manusia memang adalah JIWA yang bertubuh.


Mata seekor burung hantu bisa melihat di kegelapan malam.

Mata (ainun) manusia tidak mampu melakukan hal itu tapi ..
PANDANGAN (bashor) manusia dapat melihat menyeberangi lautan ribuan kilometer, yang mana tidak mampu dilakukan oleh burung elang atau makhluk apapun. Itulah hebatnya unsur rohani manusia, unsur langit manusia atau unsur samaawaat.

Manusia adalah jiwa yang bertubuh, manusia adalah samaawaat yang terbungkus aradh. Karena itu marilah kita mulai alihkan perhatikan kita tidak melulu pada unsur jasad kita tapi lebih menitikberatkan pada unsur samaawaat kita, tidak melulu fokus pada hardware kita tetapi lebih menekankan pada perawatan software, pengembangan software, pengoptimasian software sebagaimana hakikat diri manusia yaitu JIWA yang BERTUBUH.



Ditulis oleh Jundullah
Bumi Allah, 14 Oktober 2009  Jam 12:37:25

Inspirasi Dari 2 Abah Komar

Ada dua orang dengan panggilan yang sama, yaitu Abah Komar. Yang satu tinggal di sekitar Cikampek berusaha 81 tahun. Dan yang satu lagi adalah tetangga saya di Cimahi dengan usia yang sepertinya tidak jauh dari 80-an. Keduanya sudah tua, namun keduanya memberikan inspirasi bagi saya. 

Abah Komar yang di Cikampek, dengan usia setua itu masih berkeliling setiap hari dengan jalan kaki untuk menjajakan jasanya. Rata-rata setiap hari menempuh jarak sampai 20 km. Bukan jarak yang dekat bagi saya, apalagi bagi seorang kakek seusia 81 tahun ini. Jarak yang luar biasa jauh, yang menguras tenaga.

Mengapa Abah Komar melakukan ini? Satu alasan terucap dari mulutnya, yaitu tidak mau merepotkan anak dan cucu. Luar biasa, sebuah keinginan untuk tetap mandiri meski usia sudah senja. Padahal, sudah cukup alasan untuk menggantungkan hidup kepada anak dan cucu.


Sungguh malu, jika ada orang yang masih muda dan kuat tetapi tidak berusaha untuk mandiri. Masih menggantungkan hidup kepada orang lain, mudah menyerah, mengeluh, dan begitu mudah mengatakan sulit. Abah Komar, menempuh jarak 20 km per hari dengan penghasilan Rp 30.000 per hari, demi sebuah kemandirian.


Sementara Abah Komar tetangga saya juga luar biasa. Yang pertama si Abah (begitu saya memanggilnya) hampir tidak pernah absen untuk shalat shubuh di Masjid, bahkan beliaulah yang mengumandangkan adzan subuh dan menjadi iman untuk segelintir makmum yang jarang sekali anak mudanya.


Untuk hal mencari nafkah pun tidak kalah hebatnya. Dengan tubuh yang mungil dan sudah termakan usia, namun tidak kalah gesit dengan anak mudah saat bekerja sebagai buruh bangunan. Mendorong beban yang berat, memasang batu bata, dan berbagai pekerjaan yang menguras tanaga lainnya.


Terima kasih abah Komar (keduanya) yang telah memberikan inspirasi kepada saya agar tidak mudah menyerah. Yang telah memberi semangat menjadi pribadi yang mandiri dan tidak menjadi beban bagi orang lain. Memberi contoh untuk memberikan kontribusi kepada orang lain. Semoga saya bisa meneladaninya.


Mudah-mudahan kedua Abah Komar ini menjadi hamba yang dicintai Allah dan diampuni dosa-dosanya.


Sesungguhnya Allah Ta'ala senang melihat hambaNya bersusah payah (lelah) dalam mencari rezeki yang halal. (HR. Ad-Dailami)


Barangsiapa pada malam hari merasakan kelelahan dari upaya ketrampilan kedua tangannya pada siang hari maka pada malam itu ia diampuni oleh Allah. (HR. Ahmad)



Ditulis oleh Jundullah
Bumi Allah, 14 Oktober 2009  Jam 13:19:10

Mampukah Kita Mencintai Tanpa Syarat ?

Dilihat dari usianya beliau sudah tidak muda lagi, usia yang sudah senja bahkan sudah mendekati malam, Pak Suyatno 58 tahun kesehariannya diisi dengan merawat istrinya yang sakit istrinya juga sudah tua.

Mereka menikah sudah lebih 32 tahun Mereka dikarunia 4 orang anak disinilah awal cobaan menerpa, setelah istrinya melahirkan anak ke empat tiba-tiba kakinya lumpuh dan tidak bisa digerakkan itu terjadi selama 2 tahun, menginjak tahun ke tiga seluruh tubuhnya menjadi lemah bahkan terasa tidak bertulang lidahnyapun sudah tidak bisa digerakkan lagi.

Setiap hari Pak Suyatno memandikan, membersihkan kotoran, menyuapi, dan mengangkat istrinya ke atas tempat tidur. Sebelum berangkat kerja dia letakkan istrinya didepan TV supaya istrinya tidak merasa kesepian.

Walau istrinya tidak dapat bicara tapi dia selalu melihat istrinya tersenyum, untunglah tempat usaha pak suyatno tidak begitu jauh dari rumahnya sehingga siang hari dia pulang untuk menyuapi istrinya makan siang. Sorenya dia pulang memandikan istrinya, mengganti pakaian dan selepas maghrib dia temani istrinya nonton televisi sambil menceritakan apa-apa saja yang dia alami seharian.

Walaupun istrinya hanya bisa memandang tapi tidak bisa menanggapi, Pak Suyatno sudah cukup senang bahkan dia selalu menggoda istrinya setiap berangkat tidur. Rutinitas ini dilakukan pak suyatno lebih kurang 25 tahun, dengan sabar dia merawat istrinya bahkan sambil membesarkan ke empat buah hati mereka, sekarang anak-anak mereka sudah dewasa tinggal si bungsu yang masih kuliah.

Pada suatu hari ke empat anak suyatno berkumpul dirumah orang tua mereka sambil menjenguk ibunya. Karena setelah anak mereka menikah sudah tinggal dengan keluarga masing-masing dan pak suyatno memutuskan ibu mereka dia yang merawat, yang dia inginkan hanya satu semua anaknya berhasil.

Dengan kalimat yang cukup hati-hati anak yang sulung berkata " Pak kami ingin sekali merawat ibu, semenjak kami kecil melihat bapak merawat ibu tidak ada sedikitpun keluhan keluar dari bibir bapak....... ..bahkan bapak tidak ijinkan kami menjaga ibu". Dengan air mata berlinang anak itu melanjutkan kata-katanya "sudah yang keempat kalinya kami mengijinkan bapak menikah lagi, kami rasa ibupun akan mengijinkannya, kapan bapak menikmati masa tua bapak dengan berkorban seperti ini kami sudah tidak tega melihat bapak, kami janji kami akan merawat ibu sebaik-baik secara bergantian".

Pak suyatno menjawab hal yang sama sekali tidak diduga anak-anak mereka. "Anak-anakku ......... Jikalau perkawinan & hidup didunia ini hanya untuk nafsu, mungkin bapak akan menikah ...... tapi ketahuilah dengan adanya ibu kalian disampingku itu sudah lebih dari cukup, dia telah melahirkan kalian .. sejenak kerongkongannya tersekat, ... kalian yang selalu kurindukan hadir didunia ini dengan penuh cinta yang tidak satupun dapat menghargai dengan apapun. Coba kalian tanya ibumu apakah dia menginginkan keadaanya seperti Ini. kalian menginginkan bapak bahagia, apakah bathin bapak bisa bahagia meninggalkan ibumu dengan keadaanya sekarang, kalian menginginkan bapak yang masih diberi Tuhan kesehatan dirawat oleh orang lain, bagaimana dengan ibumu yang masih sakit."

Sejenak meledaklah tangis anak-anak pak suyatno merekapun melihat butiran-butiran kecil jatuh di pelupuk mata ibu suyatno ... dengan pilu ditatapnya mata suami yang sangat dicintainya itu .... Sampailah akhirnya pak suyatno diundang oleh salah satu stasiun TV swasta untuk menjadi nara sumber dan merekapun mengajukan pertanyaan kepada pak suyatno kenapa mampu bertahan selama 25 tahun merawat Istrinya yang sudah tidak bisa apa-apa ... disaat itulah meledak tangis beliau dengan tamu yang hadir di studio kebanyakan kaum perempuanpun tidak sanggup menahan haru disitulah Pak Suyatno bercerita.

"Jika manusia didunia ini mengagungkan sebuah cinta dalam perkawinannya, tetapi tidak mau memberi (memberi waktu, tenaga, pikiran, perhatian) adalah kesia-siaan. Saya memilih istri saya menjadi pendamping hidup saya, dan sewaktu dia sehat diapun dengan sabar merawat saya, mencintai saya dengan hati dan bathinnya bukan dengan mata, dan dia memberi saya 4 orang anak yang lucu-lucu.

Sekarang dia sakit karena berkorban untuk cinta kita bersama dan itu merupakan ujian bagi saya, apakah saya dapat memegang komitmen untuk mencintainya apa adanya. Sehatpun belum tentu saya mencari penggantinya apalagi dia sakit ...... "


Ditulis oleh Jundullah
Bumi Allah, 16 Oktober 2009  Jam 10:47:47

Ada Berapa Orang yang Mau Mendoakan Kita ?

Seorang pengusaha sukses jatuh di kamar mandi dan koma. Sudah 3 hari dia koma dan dirawat di ruang ICU, dalam dunia roh seorang malaikat menghampiri si pengusaha yang terbaring tak berdaya.

Malaikat memulai pembicaraan, "Kalau dalam waktu 24 jam ada 50 orang berdoa buat kesehatan atau kesembuhanmu, maka kau akan hidup. Sebaliknya jika kurang dari 50 orang, maka kau akan meninggal dunia!"

"Kalau hanya 50 orang, itu mah gampang ... jumlah karyawan yang aku punya lebih dari 2000 orang" kata si pengusaha ini dengan yakinnya.

Setelah itu Malaikat pun pergi dan berjanji akan datang 1 jam sebelum batas waktunya, yaitu jam 07:00 pagi.

Tepat pukul 06:00, Malaikat kembali mengunjunginya dan dengan lembut si Malaikat berkata, "Anakku, aku sudah berkeliling mencari suara hati yang berdoa buatmu tapi sampai saat ini hanya 3 orang yang berdoa buatmu, sementara waktumu tinggal 60 menit lagi."

Tanpa menunggu reaksi dari si pengusaha, si malaikat menunjukkan layar besar, di layar itu terlihat wajah duka dari sang istri, di sebelahnya ada 2 orang anak kecil, putra putrinya yang berdoa dengan khusuk dan tampak ada tetesan air mata di pipi mereka".

Kata Malaikat, "Sebenarnya Allah ingin memberimu kesempatan kedua, karena doa istrimu yang tidak putus-putus berharap akan kesembuhanmu"

Kembali terlihat dimana si istri sedang berdoa, "yaa Allah, aku tahu kalau selama hidupnya suamiku bukanlah suami atau ayah yang baik! Aku tahu dia sudah mengkhianati pernikahan kami, aku tahu dia tidak jujur dalam bisnisnya, dan kalaupun dia memberikan sumbangan, itu hanya untuk popularitas saja untuk menutupi perbuatannya yang tidak benar dihadapanMu. Tapi Allah, tolong pandang anak-anak yang telah Engkau titipkan pada kami, mereka masih membutuhkan seorang ayah. Hamba tidak mampu membesarkan mereka seorang diri."

Terlihat air mata istrinya mengalir deras di pipinya yang kelihatan kurang istirahat, juga terlihat anak-anaknya duduk tertidur di bangku rumah sakit.

Melihat peristiwa itu, tanpa terasa, air mata mengalir deras di pipi pengusaha ini. Timbul penyesalan yang luar biasa, bahwa selama ini dia bukanlah suami yang baik, bukanlah ayah yang menjadi contoh bagi anak-anaknya. Saat ini dia baru menyadari betapa besar cinta istri dan anak-anak padanya, betapa besar kesalahan dirinya.

Dengan setengah bergumam dia bertanya, "Apakah diantara karyawanku, kerabatku, teman bisnisku, teman organisasiku tidak ada yang berdoa buatku ?"

Jawab si Malaikat, "Sebenarnya ada beberapa orang lain yang berdoa buatmu. Tapi mereka tidak tulus. Bahkan ada yang mensyukuri kau sekarat saat ini. Itu semua karena selama ini kamu benar-benar hanya memikirkan dirimu sendiri, tidak memikirkan masa depan karyawanmu, bahkan masa depan anak istrimu, dan kamu bukanlah atasan yang baik". Si pengusaha tersenyum pahit, dan pasrah kalau saat ini adalah saat terakhir buat dia.

Ketika waktu menunjukkan pukul 07:00, tiba-tiba si Malaikat berkata, "Anakku, Kau tidak jadi meninggal, karena baru saja ada 47 orang yang berdoa buat kesehatanmu dan selain itu Allah melihat penyesalanmu !.

Dengan terheran-heran dan tidak percaya, si pengusaha bertanya siapakah yang 47 orang itu. Sambil tersenyum si Malaikat menjawab "
"Beberapa bulan yang lalu kau pernah ke Panti Asuhan memberi bantuan bagi mereka, walau aku tahu tujuanmu saat itu hanya untuk mencari popularitas saja dan untuk menarik perhatian pemerintah dan investor."

"Baru saja saat akan sarapan pagi, salah seorang anak panti asuhan tiba-tiba mengingatmu yang telah menolong mereka, lalu dia mengajak anak-anak lainnya untuk mendoakan agar kamu tetap sehat dan dalam lindungan Allah, hati mereka tulus ikhlas mendoakanmu."

-----------------------------

Sahabat, doa sangat besar kuasanya. Tak jarang kita malas. Tidak punya waktu. Tidak ambil pusing untuk berdoa bagi orang lain.

Ketika kita mengingat seseorang, siapa pun itu, kita pikir itu hanya kebetulan saja padahal tidak demikian. Saat kita mengingat/teringat seseorang, maka sebenarnya saat itu kita sedang diingatkan oleh Allah agar kita mendoakannya, dan seharusnya kita berdoa bagi dia/mereka.
Mungkin saja pada saat kita mengingatnya, dia dalam keadaan butuh dukungan doa dari orang lain.

Disaat kita berdoa bagi orang lain, kita akan mendapatkan kekuatan baru dan kita bisa melihat kemuliaan Allah dari peristiwa yang terjadi.

Hindarilah perbuatan dengan niat menyakiti orang lain.
Sebaliknya perbanyaklah perbuatan dengan niat membantu orang, minimal berdoa buat orang lain.

Pada saat kita berdoa buat orang lain, berdoa untuk banyak orang, maka saat itu juga sebenarnya kita telah berdoa untuk diri kita sendiri, itulah KEADILAN Allah yang Maha Pemurah, Maha Pengasih, dan Maha Penyayang.



Ditulis oleh Hari Budianto
Cibinong, Bogor, 19 Oktober 2009  Jam 1:39:23

Benarkah Allah telah memberikan yang terbaik untuk kita ?

Bila Allah CEPAT mengabulkan doa kita.
Maka Allah menyetujui bahwa yang kita minta itu memang yang terbaik untuk kita.

Bila Allah LAMBAT mengabulkannya.
Artinya Allah ingin menguji kita.
Apakah kita akan berusaha keras untuk mengejar/mewujudkan permintaan tsb.
Apakah permintaan kita itu memang benar-benar yang kita inginkan.
Apakah yang kita minta itu benar-benar memang terbaik untuk kita.
Karena yang kita inginkan belum tentu terbaik untuk kita.

Bila Allah TIDAK mengabulkan doa kita.
Maka ketahuilah bahwa sesungguhnya permintaan kita itu telah dikabulkan Allah dengan sesuatu yang lebih indah dan lebih membahagiakan.
Hanya saja kita sering baru menyadarinya setelah bertahun-tahun kemudian.

Tetaplah berprasangka baik pada Allah dalam keadaan apapun.
Karena apapun yang sedang dan telah terjadi, sesungguhnya itulah yang terbaik bagi kita.
Sehingga kita (saya dan Anda) berkewajiban untuk SELALU IKHLAS dan MENSYUKURI apa pun kondisi kita.



Ditulis oleh Burhanudin Damar
Jakarta, 20 Oktober 2009  Jam 12:42:36

Batu Kecil membuat kita menengadah kepada-Nya

Seorang pekerja pada proyek bangunan memanjat ke atas tembok yang sangat tinggi.
Pada suatu saat ia harus menyampaikan pesan penting kepada teman kerjanya yang ada di bawahnya.
Pekerja itu berteriak-teriak, tetapi temannya tidak dapat mendengarnya karena suara bising dari mesin-mesin dan orang-orang yang bekerja, sehingga usahanya sia-sia saja.

Untuk menarik perhatian orang yang ada di bawahnya, ia mencoba melemparkan uang logam di depan orang tsb. Orang itu berhenti bekerja, mengambil uang itu lalu bekerja kembali. Pekerja itu mencoba lagi, tetapi usahanya yang keduapun memperoleh hasil yang sama.

Tiba-tiba ia mendapat ide. Ia mengambil batu kecil lalu melemparkannya ke arah orang itu. Batu kecil itu tepat mengenai kepala orang itu, dan karena merasa sakit, orang itu menengadah ke atas. Sekarang pekerja itu dapat menjatuhkan catatan yang berisi pesan pentingnya.

Allah kadang-kadang menggunakan cobaan-cobaan ringan untuk membuat kita menengadah kepada-Nya.
Seringkali Allah melimpahi kita dengan rahmat, tetapi itu tidak cukup untuk membuat kita menengadah kepadaNya. Karena itu, agar kita selalu mengingat kepadaNya, Allah sering menjatuhkan "batu kecil" kepada kita.

Seandainya ...
Orang yang dilempari uang logam itu "menyadari" bahwa uang tersebut "jatuh dari atas", tentunya dia akan menengadah ke atas sehingga pekerja tadi dapat menjatuhkan catatan pesan pentingnya dan "tidak perlu" menjatuhkan "batu kecil" tsb.

Demikian juga dengan kita.
Seandainya setiap rahmat yang diberikan Allah kepada kita, cukup mampu membuat kita menengadah kepadaNya. Tentunya Allah tidak perlu menjatuhkan "batu kecil" kepada kita.

Tubuh kita, kesehatan kita, pengetahuan dan ilmu yang ada di pikiran dan hati kita, harta kita, dan semua yang kita anggap milik kita sesungguhnya adalah milik Allah, titipan Allah kepada kita.

Semua itu adalah rahmat yang diberikan Allah kepada kita. Seyogyanya kita (kami dan Anda) cukup mampu untuk "menengadah kepada-Nya" .... senantiasa bersyukur dan selalu ingat kepada "catatan penting" dari Allah, yaitu berkewajiban mengamalkannya sehingga "rahmat" tadi dapat bermanfaat bagi banyak orang.


Mohon masukannya, terima kasih.



Ditulis oleh Hari Saleh
Jakarta, 21 Oktober 2009  Jam 8:54:03

Tikus pun berfilsafat

Didalam sebuah hutan, hiduplah seekor tikus ahli filsafat.
Ia mengetahui satu hal yang tidak pernah diketahui hewan-hewan lain..
Ia yakin bahwa gelisah bisa membunuh seseorang. Sebab, gelisah bisa membunuh kebahagiaan, memadamkan kilauan cahaya dan menghilangkan kenyamanan. Selain itu, kegelisahan juga bisa menghancurkan akal,
hati dan fisik.

Pada suatu hari, ia ingin mengajari teman-teman dan anak-anaknya dengan pelajaran tersebut.
Tetapi sang tikus tidak ingin pelajarannya sekadar didengar dan dihafal saja. Ia ingin pelajaran itu dipraktekkan dan tertanam dalam sanubari.

Ketika sedang berceramah dihadapan hewan-hewan tersebut, tiba-tiba muncullah seekor singa. Tikus sang filosof kemudian berkata, "Tuan singa, aku hendak mengatakan sesuatu. Aku berharap engakau mau
memberikan jaminan keamanan kepadaku."

Sang singa menjawab, "Aku menjamin keamananmu, wahai tikus yang pemberani."

Tikus kemudian berkata, "Dihadapan semua hewan-hewan ini, aku hendak menyatakan bahwa aku mampu membunuhmu jika engkau memberiku waktu selama sebulan penuh. Seluruh penghuni hutan ini akan melihat hal itu."

Mendengar hal itu, sang singa langsung tertawa. Dengan nada mengejek, dia berkata, "Engkau mau membunuhku?"

"Benar", jawab filosof tikus mantap dan percaya diri.

"Aku setuju. Tetapi jika engkau tidak bisa melakukannya, engkau akan kupancung didepan semua hewan. Waktunya sebulan mulai dari sekarang."

"Baik, aku setuju."

Sepuluh hari telah berlalu dan singa sama sekali tidak pernah memikirkan ancaman tikus tersebut. Akan tetapi, beberapa hari kemudian, terbersit dalam hatinya, "Apa yang sebenarnya hendak dilakukan oleh tikus itu? Kenapa ia kelihatan begitu meyakinkan?
Bagaimana kalau ancaman itu benar-benar terjadi?"

Beberapa saat kemudian ia tertawa jungkir balik sambil berkata, "Bagaimana mungkin si tikus mampu membunuhku sedangkan aku punya anak-anak yang akan membelaku? Walaupun ia mengerahkan seluruh
tikus yang ada sekalipun, tidak mungkin bisa membunuhku."

Beberapa hari kemudian, bisikan tersebut kembali hadir dalam benaknya. Untuk kali ini, ia merasakan bahwa bisikan tersebut terasa lebih kuat dari sebelumnya.

Waktu terus berjalan dan batas waktu yang ditentukan hampir berakhir.
Sementara itu, sang tikus tidak datang untuk mencabut pernyataannya ataupun menyerah. Justru, filosof tikus malah terus mengumumkan ancamannya ke seluruh penghuni hutan.

Melihat kenyataan tersebut, sang singa terus berpikir, "Apakah filosof tikus mempunyai senjata yang ampuh atau telah mengumpulkan kekuatan yang luar biasa, atau membuat jebakan yang mematikan?"

Hari demi hari berganti dan pikiran-pikiran tersebut selalu muncul hingga membuat singa tidak doyan makan dan minum. Dia selalu memikirkan nasib dan akhir yang begitu mengerikan, seperti ancaman tikus tersebut.

Sebelum hari yang ditentukan tiba, tepatnya pada pagi hari yang keduapuluh lima , hewan-hewan menemukan singa tersebut telah mati didalam kandangnya.

Dia telah terbunuh oleh perasaan was-was dan ketakutan. Daging dan lemaknya telah terbakar oleh kesedihan yang ia rasakan, padahal sang tikus tidak pernah melakukan tipu muslihat atau merancang persengkongkolan apapun. Ia hanya mengetahui sebuah rahasia, bahwa menunggu musibah, memperkirakan bencana dan was-was terhadap sebuah tragedi adalah senjata ampuh yang bisa membunuh jagoan pemberani ataupun sang perkasa yang tidak punya rasa takut.

Jangan pernah menyia-nyiakan waktu

Kebanyakan orang tidak pernah menghiraukan hari-hari yang dijalaninya, karena sibuk untuk masa depan. Cita-cita telah membuatnya lupa manisnya kehidupan yang sedang dia jalani. Yang ada hanyalah ketakutan akan masa depan. Mereka selalu resah dengan hari-hari yang akan datang.

Mereka selalu berpikir bagaimana seandainya kehilangan pekerjaan?
Bagaimana dia akan memberi makan anak-anak? Apa yang akan dia katakan kepada teman-teman? Serta bagaimana nasibnya kemudian?

Kalau kegelisahan mengenai hal-hal tersebut mampu diatasi, dia akan memikirkan hal-hal lain. Bagaimana seandainya dia menderita sakit, buta atau kaki buntung? Bagaimana bentuk tubuhnya nanti? Bagaimana
dia akan menanggung semua itu?

Yang ada didalam kepala hanyalah musibah dan musibah. Barangkali, mobil yang dinaiki akan mengalami kecelakaan, barangkali pesawat yang ditumpangi akan jatuh, barangkali kapal yang ia naiki akan tenggelam
dan barangkali saja bangunan tempat dia tinggal akan runtuh.

Dia pun takut kalau sampai hal-hal yang tidak diinginkan tersebut terjadi. Orang seperti ini akan menjadi mangsa empuk serigala buas bernama kegelisahan dan makanan lezat hantu bernama kesedihan.



Ditulis oleh jundulllah
Bumi Allah, 21 Oktober 2009  Jam 10:46:31

Mengubah kepahitan hidup menjadi kedamaian dan kebahagiaan

Suatu hari seorang tua bijak didatangi seorang pemuda yang sedang dirundung masalah. Tanpa membuang waktu pemuda itu langsung menceritakan semua masalahnya.

Pak tua bijak hanya mendengarkan dengan seksama, lalu dia mengambil segenggam serbuk pahit dan meminta anak muda itu untuk mengambil segelas air. Ditaburkannya serbuk pahit itu ke dalam gelas, lalu diaduknya perlahan.

"Coba minum ini dan katakan bagaimana rasanya", ujar pak tua

"Pahit, pahit sekali", jawab pemuda itu sambil meludah ke samping

Pak tua itu tersenyum, lalu mengajak tamunya ini untuk berjalan ke tepi telaga belakang rumahnya. Kedua orang itu berjalan berdampingan dan akhirnya sampai ke tepi telaga yang tenang itu. Sesampai disana, Pak tua itu kembali menaburkan serbuk pahit ke telaga itu, dan dengan sepotong kayu ia mengaduknya.

"Coba ambil air dari telaga ini dan minumlah."

Saat si pemuda mereguk air itu, Pak tua kembali bertanya lagi kepadanya,

"Bagaimana rasanya ?"
"Segar",
sahut si pemuda.
"Apakah kamu merasakan pahit di dalam air itu ?" tanya pak tua
"Tidak", sahut pemuda itu

Pak tua tertawa terbahak-bahak sambil berkata:

"Anak muda, dengarkan baik-baik. Pahitnya kehidupan, adalah layaknya segenggam serbuk pahit ini, tak lebih tak kurang. Jumlah dan rasa pahitnyapun sama dan memang akan tetap sama. Tetapi kepahitan yang kita rasakan sangat tergantung dari wadah yang kita miliki, tergantung dari luas tidaknya hati/perasaan kita.

Jadi saat kamu merasakan kepahitan dan kegagalan, maka LAPANGKANLAH DADAMU menerima semuanya itu, LUASKANLAH HATIMU untuk menampung setiap kepahitan itu".

Pak tua itu lalu kembali menasehatkan:

"Hatimu adalah wadah itu;
Perasaanmu adalah tempat itu;
Kalbumu adalah tempat kamu menampung segalanya.

Jangan jadikan hatimu seperti gelas;
Buatlah hatimu laksana telaga yang mampu menampung setiap kepahitan itu;
Sehingga kepahitan itu menjadi tidak terasa dan tidak mempengaruhi kesegaran dan kedamaian hatimu".

Anak muda, belajarlah menerima kenyataan;
Berlatihlah menerima kenyataan;
Berlatihlah untuk ikhlas serta mensyukuri setiap kenyataan.
Karena itulah yang terbaik bagimu.
Dan latihan itu akan semakin memperluas daya tampung hatimu.

Kalau kamu mau dan berusaha melatihnya terus-menerus, maka hatimu akan benar-benar seluas telaga.
Dan kamu tidak pernah merasakah kepahitan lagi, apa pun keadaan dan masalahmu, hatimu akan tetap segar, damai, dan bahagia".




Ditulis oleh Hari Budianto
Cibinong, Bogor, 22 Oktober 2009  Jam 22:12:58

Dua Pesan sang Ayah..(good for your life-wajib baca)

Diceritakan ada 2 orang kakak beradik. Sebelum ayah nya meninggal, ia berpesan dua hal :

1. Jangan menagih hutang kepada orang yang berhutang kepadamu..dan..
2. Jika pergi dari rumah ke toko jangan sampai mukamu terkena sinar matahari...

Waktu terus berjalan. Dan kenyataan terjadi, behwa beberapa tahun setelah ayahnya meninggal, anak yang sulung bertambah kaya, sedangkan yang bungsu bertambah miskin.
Ibunya yang masih hidup menanyakan hal itu kepada mereka.

Jawab anak yang bungsu :

Ini karena saya mengikuti pesan ayah. Ayah berpesan bahwa, saya tidak boleh menagih hutang kepada orang yang berhutang kepadaku, dan sebagai akibatnya, modalku susut karena orang yang berhutang kepada ku tidak membayar, sementara aku tidak boleh menagih.
Juga ayah berpesan supaya kalau saya pergi atau pulang dari rumah ke toko dan sebaliknya tidak boleh terkena sinar matahari. Akibatnya, saya harus naik becak atau andong. sebetulnya dengan jalan kaki saja cukup, tetapi karena pesan ayah demikian, jadinya pengeluaranku bertambah banyak.

Kepada anak sulung yang bertambah kaya, ibunyapun menanyakan hal yang sama.

Jawab anak sulung :

Karena ayah berpesan supaya tidak menagih kepada orang yang berhutang kepada saya, saya tidak memberikan pinjaman (hutang) kepada orang lain, sehingga modal tidak susut. Ayah juga berpesan agar jika saya berangkat ke toko atau pulang dari toko saya tidak boleh terkena sinar matahari. Dengan demikian, saya berangkat ke toko sebelum matahari terbit dan pulang sesudah matahari terbenam. Akibatnya toko saya buka sebelum toko yang lain buka, dan tutup jauh sesudah toko yang lain tutup. Dengan kebiasaan seperti itu, orang akhirnya tahu dan tokoku menjadi laris karena mempunyai jam kerja lebih lama.

Bagaimanakah dengan Anda ?

Kisah di atas menunjukkan bagaimana sebuah pesan di tanggapi dengan persepsi yang berbeda jika kita melihat dengan positive-attitude, segala kesulitan sebenarnya adalah sebuah perjalanan menuju kesuksesan, tetapi kadang kita terhanyut dalam kesulitan karena rutinitas kita....pilihan ada di tangan Anda.



Ditulis oleh budimaa
Indonesia, 1 November 2009  Jam 10:40:14

Kesadaran untuk Men-SYUKUR-i Musibah

Cerita klasik sederhana yang luar biasa ini karya ANDRIE WONGSO.

Di sebuah kerajaan, sang raja memiliki kegemaran berburu.
Suatu hari, ditemani penasehat dan pengawalnya raja pergi berburu ke hutan.
Karena kurang hati-hati, terjadilah kecelakaan, jari kelingking raja terpotong oleh pisau yang sangat tajam.

Raja bersedih dan meminta pendapat dari seorang penasihatnya. Sang penasehat mencoba menghibur dengan kata-kata manis, tapi raja tetap sedih.

Karena tidak tahu lagi apa yang mesti diucapkan untuk menghibur raja, akhirnya penasehat itu berkata: "Baginda, apa pun yang terjadi patut disyukuri".

Mendengar ucapan penasehatnya itu sang raja langsung marah besar : "Kurang ajar ! Kena musibah bukan dihibur tapi malah disuruh bersyukur...!"
Lalu raja memerintahkan pengawalnya untuk menghukum penasehat tadi dengan hukuman tiga tahun penjara.

Hari terus berganti. Hilangnya jari kelingking ternyata tidak membuat raja menghentikannya berburu. Suatu hari, raja bersama penasehatnya yang baru dan rombongan, berburu ke hutan yang jauh dari istana. Tidak terduga, saat berada di tengah hutan, raja dan penasehatnya tersesat dan terpisah dari rombongan. Tiba-tiba, mereka dihadang oleh orang-orang suku primitif. Keduanya lalu ditangkap dan diarak untuk dijadikan korban persembahan kepada para dewa.

Sebelum dijadikan persembahan kepada para dewa, raja dan penasehatnya dimandikan. Saat giliran raja yang dimandikan, ketahuan kalau salah satu jari kelingkingnya terpotong, yang diartikan sebagai tubuh yang cacat sehingga dianggap tidak layak untuk dijadikan persembahan kepada para dewa.

Akhirnya, raja ditendang dan dibebaskan begitu saja oleh orang-orang primitif itu. Dan penasehat barulah yang dijadikan persembahan kepada para dewa.

Dengan susah payah, akhirnya raja berhasil keluar dari hutan dan kembali keistana. Setibanya di istana, raja langsung memerintahkan supaya penasehat yang dulu dijatuhinya hukuman penjara segera dibebaskan.

"Penasehatku, aku berterimakasih kepadamu. Nasehatmu ternyata benar, apa pun yang terjadi kita patut bersyukur. Karena jari kelingkingku yang terpotong waktu itu, hari ini aku bisa pulang dengan selamat. . . . "
Kemudian, raja menceritakan kisah perburuannya waktu itu secara lengkap.

Setelah mendengar cerita sang raja, buru-buru sipenasehat berlutut sambil berkata:
"Terima kasih baginda. Saya juga bersyukur baginda telah memenjarakan saya waktu itu. Karena jika saya tidak dipenjara, maka bukan penasehat yang baru itu yang akan jadi korban, melainkan saya yang bakal diajak baginda ikut berburu dan sayalah yang akan menjadi korban dipersembahkan kepada dewa oleh orang-orang primitif. Sekali lagi terima kasih baginda telah memenjarakan saya, sehingga saya tetap selamat saat ini."

----------------

Cerita ini mengajarkan suatu nilai yang sangat mendasar, yaitu apa pun yang terjadi, selalu bersyukur, saat kita dalam kondisi maju dan sukses, kita patut bersyukur, saat musibah datang pun kita tetap bersyukur.

Dalam proses kehidupan ini, memang tidak selalu bisa berjalan mulus seperti yang kita harapkan. Kadang kita di hadapkan pada kenyataan hidup berupa kekhilafan, kegagalan, penipuan, fitnahan, penyakit, musibah, kebakaran, bencana alam, dan lain sebagainya.

Manusia dengan segala kemajuan berpikir, teknologi, dan kemampuan antisipasinya, senantiasa berusaha mengantisipasi adanya potensi-potensi kegagalan, bahaya, atau musibah. Namun kenyataannya, tidak semua aspek bisa kita kuasai. Ada wilayah 'X' yang keberadaan dan keberlangsungannya sama sekali di luar kendali manusia. Inilah wilayah Tuhan Yang Maha Kuasa dengan segala misterinya.

Sebagai makhluk berakal budi, wajar kita berusaha menghindarkan segala bentuk marabahaya.
Tetapi jika marabahaya datang dan kita tidak mampu untuk mengubahnya, maka kita harus belajar dengan rasa syukur dan jiwa yang besar untuk menerimanya. Dengan demikian beban penderitaan mental akan jauh terasa lebih ringan, kalau tidak, kita akan mengalami penderitaan mental yang berkepanjangan.

Sungguh, bisa bersyukur dalam keadaan apapun merupakan kekayaan jiwa.

Maka saya sangat setuju dengan kata bijak yang mengatakan
KEBAHAGIAAN DAN KEKAYAAN SEJATI ADA DI RASA BERSYUKUR.

Andrie Wongso



Ditulis oleh Yuli Marisa
Cibinong, Bogor, 4 November 2009  Jam 0:29:13

Semakin Kita Beremosi Semakin Akal Tidak Berfungsi

Seorang gadis dimasukkan ke hospital kerana mengambil paracetamol berlebihan. Dia menelan berpuluh-puluh biji pil tersebut sekali gus. Dan hampir-hampir saja tindakannya itu meragut nyawanya. Di atas katil hospital dia menceritakan sebab bagi kewajaran tindakannya.

"Saya bercinta dengan seorang pemuda dalam satu kisah yang panjang" gadis itu memulakan cerita.

"Kami menemui keserasian sejak dari umur kanak-kanak. Kami bersekolah tadika sama, sekolah rendah dan sehinggalah peringkat menengah." Ceritanya lancar sekali seperti menjeling zaman lampaunya yang indah semerbak.

"Saya tahu dia tercipta untuk saya" Saya pula tercipta untuknya." Begitu puitis ceritanya seperti lagu-lagu cinta.

"Saya pasrahkan diri untuknya. Saya hanya ada dia bagi masa depan saya. Dia juga begitu, kami bersama meniti hari buat memadu ikatan berkekalan. Gerbang perkahwinan." Ujarnya tersusun dalam irama sedikit yakin.

"Namun.apabila selesai SPM, keputusan peperiksaan saya teruk tetapi dia berjaya melanjutkan pelajaran ke university."

"Di sinilah bermula segala-galanya berubah. Hari demi hari mendatang dia telah jadi orang lain, saya seakan-akan tidak mengenalinya sama sekali." Dia seperti akan menangis bagi mengakhiri bicaranya.

"Memang pada permulaan berjauhan, setiap saat kami berhubungan melalui telefon. Kerinduan bagai badai yang mengaramkan kami dalam samudera rindu."

Sekali lagi dia berpuisi menghirup nafas yang dalam bersama memori terindahnya.

"Tidak lama kemudian saya merasakan ada sesuatu kelainan apabila dia mula menyepi. Begitu sukar untuk menghubunginya, saya tidak tahu apa nombor telefon barunya."

Wajahnya bertukar merah, air mata mula mengalir dari kelopak matanya.

"Akhirnya saya dapat tahu dia telah punya orang lain dalam hidupnya sedangkan saya di sini terpanggang menanggung derita keseorangan." Esakannya kian kuat.

:Pada suatu hari dia datang berjumpa saya dan secara rasmi memberitahu bahawa kami bukan pasangan yang sesuai. Perhubungan yang kami bina bertahun-tahun seperti tiada apa-apa makna dan diputuskan begitu saja."

Kekecewaan jelas terpancar pada utas-utas bicaranya.

"Selepas pertemuan itu saya menghabiskan masa menyendiri, berfikir tentang diri sendiri mengingat memori indah serta sembilu yang disayat-sayat kepada hati saya yang begitu menyakitkan. Saya tidak menemui selain daripada kesakitan yang sangat dalam, hidup saya telah musnah, saya tidak punya masa depan lagi. Saya tidak perlu hidup lagi."

Tangisannya kuat, ledakan emosinya begitu menggetarkan. Bicaranya kemudian berulang-ulang atas benda yang sama.

Cerita ini sebenarnya tiada kesimpulannya, ia hanya mengenengahkan sebuah kisah yang mana secara intelek kita boleh berkata :

"Wahai gadis, apalah yang ada pada pemuda itu sehingga sanggup anda mengorbankan nyawa yang sangat berharga kerananya?"

"Apalah sangat kesakitan berbanding masa depan gemilang yang menanti untuk bertemu dengan pemuda lain yang jauh lebih baik daripadanya?"

"Kecilnya masalah itu, ada ramai lagi orang lain di luar sana yang sedang menanggung derita yang lebih parah tetapi tidak terlintas pun untuk membunuh diri!"

Itu hujah kita, kenapa begitu rasional??

Kerana kita tidak mencampurkannya dengan emosi negatif.

Kenapa pula gadis tadi tidak boleh berfikir begini??

Kerana dia menyeret seluruh emosinya sekali.

Kita telah menemui di mana punca kepada persoalan yang sering berlaku dalam kehidupan manusia. Kenapa manusia tidak dapat mencari jawapan walaupun kelihatan masalah itu sangat mudah.

Kenapa masalah tersebut masih menggelutinya??

Jawapannya, rasional hilang dan akhirnya dia tidak menemui cahaya sehingga ke hujung lorong permasalahan.

Begitulah bahayanya gelutan emosi negative dalam diri. Sama ada emosi itu dalam soal perasaan tentang cinta atau kemarahan membara, ia sama sahaja. Ini adalah kerana apabila kita beremosi, kita hanya fikir benda yang sama, akal jadi sangat tumpul.

Cuba kita lihat orang yang sedang marah atau mabuk cinta, perkataan yang keluar dari mulutnya ialah benda yang sama, ibarat satu kitaran yang bergelung. Ia seperti berlegar-legar dalam sebuah kotak besi yang terkatup rapat. Tidak jumpa jalan keluar.

Apabila emosi ini terus dilayan, ia akan menjadi seperti bebola salji yang digolekkan dari atas ke bawah bukit. Daripada asalnya hanya sebesar bola sepak, bulatan itu boleh jadi sebesar kereta!! Justeru itu, sekiranya kita mahu selamat dan maruah terus terpelihara, ketika emosi terpancing, sedarkan diri bahawa kita sedang dalam zon penyingkiran waras, keupayaan akal merudum teruk sehingga kuasa naluri pun turut lumpuh.

Asingkan suara dalam, bezakan antara gejolak emosi dan ilmu serta fitrah murni. Sekiranya ini tidak dapat diatasi, apa lagi yang masih tinggal pada manusia ini untuknya membuat keputusan dan bertindak??

Jawapannya : JANGAN HARAP!


Ditulis oleh laa tahzan
Bumi Allah, 3 Januari 2010  Jam 16:39:22

Jika Anda Mudah Tersinggung

Salah satu hal yang sering membuat energi kita terkuras adalah timbulnya rasa ketersinggungan diri. Munculnya perasaan ini sering disebabkan oleh ketidaktahanan kita terhadap sikap orang lain.

Ketika tersinggung, minimal kita akan sibuk membela diri dan selanjutnya akan memikirkan kejelekan orang lain. Hal yang paling membahayakan dari ketersinggungan adalah habisnya waktu kita menjadi buah roh.

Efek yang biasa ditimbulkan oleh rasa tersinggung adalah kemarahan. Jika kita marah, kata-kata jadi tidak terkendali, stress meningkat, dan lainnya. Karena itu, kegigihan kita untuk tidak tersinggung menjadi suatu keharusan.

Apa yang menyebabkan orang tersinggung? Ketersinggungan seseorang timbul karena menilai dirinya lebih dari kenyataan, merasa pintar, berjasa, baik, tampan, dan merasa sukses.

Setiap kali kita menilai diri lebih dari kenyataan bila ada yang menilai kita kurang sedikit saja akan langsung tersinggung. Peluang tersinggung akan terbuka jika kita salah dalam menilai diri sendiri. Karena itu, ada sesuatu yang harus kita perbaiki, yaitu proporsional menilai diri.

Teknik pertama agar kita tidak mudah tersinggung adalah tidak menilai lebih kepada diri kita. Misalnya, jangan banyak mengingat-ingat bahwa saya telah berjasa, saya seorang guru, saya seorang pemimpin, saya ini orang yang sudah berbuat. Semakin banyak kita mengaku-ngaku tentang diri kita, akan membuat kita makin tersinggung.

Ada beberapa cara yang cukup efektif untuk meredam ketersinggungan

Pertama, belajar melupakan.

Jika kita seorang sarjana maka lupakanlah kesarjanaan kita. Jika kita seorang direktur lupakanlah jabatan itu. Jika kita pemuka agama lupakan kepemuka agamaan kita. Jika kita seorang pimpinan lupakanlah hal itu, dan seterusnya. Anggap semuanya ini berkat dari Allah agar kita tidak tamak terhadap penghargaan. Kita harus melatih diri untuk merasa sekadar hamba Allah yang tidak memiliki apa-apa kecuali berkat ilmu yang dipercikkan oleh Allah sedikit. Kita lebih banyak tidak tahu. Kita tidak mempunyai harta sedikit pun kecuali sepercik titipan berkat dari Allah. Kita tidak mempunyai jabatan ataupun kedudukan sedikit pun kecuali sepercik yang Allah telah berikan dan dipertanggung jawabkan. Dengan sikap seperti ini hidup kita akan lebih ringan. Semakin kita ingin dihargai, dipuji, dan dihormati, akan kian sering kita sakit hati.

Kedua, kita harus melihat bahwa apa pun yang dilakukan orang kepada kita akan bermanfaat jika kita dapat menyikapinya dengan tepat.

Kita tidak akan pernah rugi dengan perilaku orang kepada kita, jika bisa menyikapinya dengan tepat. Kita akan merugi apabila salah menyikapi kejadian dan sebenarnya kita tidak bisa memaksa orang lain berbuat sesuai dengan keinginan kita. Yang bisa kita lakukan adalah memaksa diri sendiri menyikapi orang lain dengan sikap terbaik kita. Apa pun perkataan orang lain kepada kita, tentu itu terjadi dengan izin Allah. Anggap saja ini episode atau ujian yang harus kita alami untuk menguji keimanan kita.

Ketiga, kita harus berempati.

Yaitu, mulai melihat sesuatu tidak dari sisi kita. Perhatikan kisah seseorang yang tengah menu ntun gajah dari depan dan seorang lagi mengikutinya di belakang Gajah tersebut.

Yang di depan berkata, "Oh indah nian pemandangan sepanjang hari". Kontan ia didorong dan dilempar dari belakang karena dianggap menyindir. Sebab, sepanjang perjalanan, orang yang di belakang hanya melihat pantat gajah.

Karena itu, kita harus belajar berempati. Jika tidak ingin mudah tersinggung cari seribu satu alasan untuk bisa memaklumi orang lain. Namun yang harus diingat, berbagai alasan yang kita buat semata-mata untuk memaklumi, bukan untuk membenarkan kesalahan, sehingga kita dapat mengendalikan diri.

Keempat, jadikan penghinaan orang lain kepada kita sebagai ladang peningkatan kwalitas diri dan kesempatan untuk mempraktekkan buah - buah roh Yaitu, dengan memaafkan orang yang menyakiti dan membalasnya dengan kebaikan.

www.tarbiyah.net.tc


Ditulis oleh Nurul
Bumi Allah, 9 Maret 2010  Jam 16:45:03

Hati Yang Penuh Syukur

Cerita dalam kisah itu merupakan kisah nyata yang menyentuh. Sepasang suami istri yang tidak dikaruniai anak menemukan bayi merah perempuan. Setelah umur dua tahun, baru mereka tahu kalau bayi itu bisu tuli. Namun mereka tetap menyayanginya dan membesarkannya dengan penuh kasih sayang.

Anak perempuan itu tumbuh menjadi anak yang pintar, dan bisa menyelesaikan sekolah hingga lulus perguruan tinggi. Ketika si anak pulang setelah menyelesaikan kuliahnya, baru ia tahu kalau ibunya sudah meninggal setahun sebelumnya (ayahnya sudah lebih dulu meninggal). Saat itu juga ia diberitahu oleh tetangganya kalau dirinya bukanlah anak kandung orangtua yang mengasuhnya itu. Betapa sedihnya ia....

Satu hal yang menarik, si anak begitu menyayangi kedua orang tua asuhnya itu dan mensyukuri keadaan dirinya apa adanya. Dalam satu bait puisi yang ia persembahkan untuk sang ibu, ia menulis bait yang sangat menyentuh. Berikut penggalannya:
...................
Aku bersyukur ada engkau (ibu)
Yang menemaniku sepanjang hidupku
Hingga membuatku mampu menjadi diri sendiri
Aku bersyukur,
Aku berterima kasih pada keadaanku ini
Dalam duka dan bahagia, aku tetap bersyukur.


Teman-teman netter,

Rasa syukur itu sangat mahal. Banyak dari kita yang diberi kelebihan namun kurang bersyukur sehingga hidupnya penuh kekecewaan. Bagi saya, manusia yang tidak bisa mensyukuri apa yang didapatnya, ia adalah orang yang miskin. Sebaliknya, manusia yang penuh syukur adalah manusia yang kaya dalam arti yang sebenarnya.


Sampai jumpa. Salam sukses, LUAR BIASA!

Dikutip dari -- Andriewongso.Com


Ditulis oleh Watari
Bogor, 18 Maret 2010  Jam 7:27:47

Cara Terbaik agar Hidup Selalu Bahagia

Kebahagiaan adalah hak. Dan seperti semua hak, kitalah yang diharapkan datang menjemputnya.
Bersama semua hak, tentu ada tanggung jawabnya. Dan tanggung jawab bagi mereka yang dibahagiakan adalah membahagiakan yang lainnya.
Maka orang yang tidak ingin tertunda kebahagiaannya, harus mendahulukan tercapainya kebahagiaan orang lain, otomatis kita pun bahagia.

Marilah kita terima dengan ikhlas, bahwa kebahagiaan adalah masalah keputusan.
Hidup yang berbahagia adalah untaian dari keputusan-keputusan untuk berbahagia, dari satu waktu ke waktu lainnya.
Kita harus segera memutuskan untuk berbahagia, dan keputusan itu harus tegas. Karena keputusan yang berdampak baik adalah keputusan baik yang tegas.

Segera setelah kita putuskan untuk berbahagia, maka semua pikiran, perasaan, dan tindakan kita akan terfokus pada membahagiakan.

Tegaslah untuk memutuskan bahwa :
"Waktu terbaik untuk berbahagia adalah SEKARANG".
"Tempat terbaik untuk berbahagia adalah DISINI".

dan
"cara terbaik untuk berbahagia adalah membahagiakan orang lain".

Jika kita belum mampu merasa bahagia, marilah kita hidup dengan cara yang mejadikan kita pantas untuk berbahagia.

Perasaan kita ditentukan oleh apa yang kita kerjakan dan yang kita hindari.
Maka jangan hindari pikiran baik, jangan hindari perasaan yang baik, dan terutama jangan hindari tindakan yang baik.

Perlu diingat bahwa
"Orang yang hidup hanya untuk dirinya sendiri, akan lebih mudah merasa sedih dan tidak berguna".

Oleh karena itu, berusahalah untuk menjadi sebab bagi kebahagiaan.

"Tujuan hidup kita adalah menjadi sebab bagi kebahagiaan, bagi diri sendiri dan bagi sebanyak mungkin orang lain".

Marilah kita (saya dan Anda) hidup untuk membahagiakan sebanyak mungkin orang lain, maka otomatis (insyaAllah) kita akan dijauhkan dari kesedihan, dan kita akan dimudahkan untuk menjadi sangat bahagia.


Sumber :
http://www.facebook.com/notes/supiani-indragung/cara-terbaik-agar-hidup-selalu-bahagia/10150159666180034



Ditulis oleh kadarusman
cibinong, 28 April 2010  Jam 10:26:37

Fokus Pada Titik Kekuatan

Kesuksesan adalah hasil melakukan apa yang ingin kau lakukan. Tidak ada cara lain untuk menjadi sukses.
-Malcolm S. Forbes-
Penerbit majalah Forbes

Tidak ada manusia yang sempurna. Setiap kita mempunyai kekuatan tapi juga mempunyai kelemahan. Kekuatan kita adalah hal-hal yang dapat kita lakukan dengan sangat baik dan membuat kita bergairah. Melakukan hal itu sangat mudah bagi kita dan sangat menyenangkan. Kekuatan kita memberitahukan kepada kita mana yang bisa kita lakukan dengan baik dan mana yang sulit kita lakukan.

Karena kita mempunyai kekuatan dan juga kelemahan, ini berarti kita tidak bisa melakukan semua hal dengan sama baiknya. Kalau kita mau maksimal maka kita perlu fokus untuk mengembangkan kekuatan kita. Inilah yang dilakukan oleh orang-orang yang sukses, mereka berfokus untuk terus mengembangkan kekuatan mereka dan mendelegasikan semua yang lainnya.

Beberapa tahun yang lalu, seorang reporter bertanya kepada seorang pelatih tim pingpong Cina mengenai bagaimana tim tersebut berlatih. Pelatih tim tersebut mengatakan bahwa mereka meluangkan paling tidak delapan jam setiap hari untuk melatih titik-titik kekuatan mereka. Latihan sejenis ini meningkatkan kekuatan sampai titik maksimumnya dan kekuatan-kekuatan tersebut mengkompensasi kekurangan-kekurangan mereka.

Dia memberi contoh lebih lanjut tentang salah satu pemain yang memukul bola dengan pukulan forehand. Pemain tersebut tidak mempunyai pukulan backhand yang baik, maka dia hanya menggunakan forehandnya dengan begitu efektifnya sehingga tidak dapat dikalahkan.

Ilustrasi sederhana ini merupakan pengingat hebat untuk menerapkan hal yang sama dalam memaksimalkan kekuatan-kekuatan kita di setiap sektor kehidupan. Galilah kekuatan Anda dan hiduplah di dalamnya maka kesuksesan akan menjadi milik Anda.

Sumber: http://sofyandomion.blogspot.com/



Ditulis oleh Sofyan
Jakarta Barat, 5 Agustus 2010  Jam 16:03:17

Kehidupanmu adalah Sintesa Mimpi, Upaya, Doa Dan KuasaNYA

Ya, hidup yang kau jalani saat ini adalah perpaduan mimpi, upaya, doa dan kuasanya. Semasih muda, banyak sekali impian atau cita-cita yang ingin kita capai. Seperti penggalan lirik dari tema lagu Doraemon, Aku ingin begini, aku ingin begitu. Banyak sekali. Tentu saja dari sekian banyak impian atau cita-cita kita, ada yang dapat kita capai. Coba anda ingat, apa saja impian anda. Pasti ada dari impian tersebut yang dapat anda wujudkan. Seperti didengungkan oleh Bung Karno, Gantungkanlah cita-citamu setinggi langit. Karena hanya orang besarlah yang memiliki impian besar. Setidak-tidaknya ketika impianmu hanya terwujud sedikit, itu akan jauh lebih baik daripada anda hanya bercita-cita kecil dan ternyata terkabul sedikit.

Tentu saja harus ada upaya untuk mencapai impian tersebut, karena tidak mungkin anda ingin menjadi pengacara misalnya, tetapi tidak kuliah di fakultas hukum.
Disini saya pisahkan antara upaya dan doa, karena kalau Tuhan Yang Maha Esa menghendaki hanya dengan upaya tanpa doa, atau sebaliknya berdoa tanpa upaya kadang keinginan kita terkabul.

Pernahkah terbersit dalam pikiran anda mengidamkan untuk memiliki sesuatu atau ingin pergi ke suatu tempat. Tak berapa lama keinginan anda terwujud. Kadang hanya impian atau keinginan saja tanpa upaya dan doa, keinginan kita dapat terwujud.

Kadang meski kita sudah berupaya dan berdoa keras untuk mewujudkan impian kita, ternyata hasilnya berbeda dari yang kita harapkan. Nah, inilah yang namanya kuasa Tuhan alias takdir.



Ditulis oleh Sisi Yusran
Cibubur, 17 Agustus 2010  Jam 22:58:00

 
 
Copyright © 2014 KANG LINTAS. All Rights Reserved. Powered by Lintas Daerah
Template by Creating Website and Kang Lintas